nEEEAD a tHIIISS




Di titik ini di hidup saya, saya merasa nggak sanggup.
Ini bukan hal yang sering saya rasakan; saya mendidik diri saya sendiri untuk nggak begitu. Sejak awal, saya pastikan bahwa semua hal yang saya lakukan memang dilandasi dengan kemauan yang kuat, jadi when things get rough, setidaknya saya cuma capek badan. Gak capek hati. Karena cuma capek hati yang bener-bener bisa matiin api perjuangan. Saya rasa itulah hal yang bener-bener akan menyedot semua tenaga, pikiran, dan semangat: kalau hati udah nggak mendukung.

Namun saya sadar bahwa mungkin nggak semudah itu. Nggak semua pemikiran filosofis dan prinsip-prinsip dalam hidup bisa menjawab masalah-masalah yang ada. Seringkali semua hal bener-bener bersifat situasional, dan yang namanya kebijaksanaan bisa bersyarat. Di titik ini di hidup saya, saya merasa nggak sanggup. Saya nggak sanggup akan tuntutan yang dibebankan oleh kampus; tugas-tugas yang menyita waktu belajar; kendala sistem yang terkadang semena-mena. Jatuh sakit udah nggak usah ditanya. Mungkin yang saya rasakan adalah, bahwa tuntutan-tuntutan ini menghalangi tujuan saya yang sebenarnya. Kami ingin jadi dokter, bisakah kami mulai untuk belajar dengan sungguh-sungguh? Rasanya tugas-tugas ini banyaknya lebih membebani. Masuk kuliah pukul 7 bikin saya stress setengah mati.
Di sini saya mengerti, bahwa bukan cuma capek hati yang bisa menyiram api dengan air. Sebagai mahasiswa, kita bisa digilas oleh sistem; dikeringkerontangkan oleh tuntutan, ditekan oleh waktu. Kita bisa dilempar dari zona nyaman dan mendarat di tanah penuh batu. Lalu tanpa diberi waktu untuk membersihkan muka dari debu, kita disuruh kembali hadapi tuntutan yang lain.

Lalu orang-orang masih tega berucap di depan wajah kita bagaimana kita seharusnya tidak tidur jam 1 pagi.
Meski demikian, saya tahu, saya tidak seharusnya berlagak jadi korban. Saya menolak untuk merasa demikian. Meski membuat saya jadi sesekali mempertanyakan pilihan hidup ini, saya percaya pada diri saya jauh lebih dari itu. Jauh lebih dari sekedar korban dari hujan batu ababil ini. Tulisan ini saya buat semata-mata untuk membangkitkan diri saya sendiri, karena sejujur-jujurnya, saya memang sedang merasa nggak sanggup. Ini juga buat semua teman-teman di luar sana yang kepalanya sedang penat, yang hatinya sedang gersang. Buat semua yang lagi merasa nggak sanggup. Mungkin ada pentingnya juga merasa demikian, supaya memberi diri sendiri sedikit waktu untuk istirahat dan sedikit ruang untuk kedamaian hati. Biar gak jadi korban. Karena kadang orang yang paling tega buat ngorbanin diri kita, ya diri kita sendiri.

Komentar

Postingan Populer